Langsung ke konten utama

Cara Mengetahui Makanan Mengandung Formalin/Boraks

Tidak jarang pengawetan makanan menggunakan formalin atau Boraks. Hal ini tentu akan berbahaya bagi orang yang menkonsumsi makanan tersebut. Boraks atau pijer alias bleng alias bibit gendar atau air kie, sering disalah gunakan sebagai pengawer makanan seperti mie, baso, tahu, lontong, empek-empek, kerupuk atau ketupat dan lontong. Walah.. kebanyakan adalah makanan para mahasiswa/I yang sedang kos. :D

]
 Contoh makanan yang dapat berpotensi mengandung boraks / formalin

Orang yang menkonsumsi makanan yang mengandung boraks tidak akan langsung merasakan akibatnya. Racun atau toksin boraks akan diserap dalam tubuh dan akan disimpan secara kumulatif (bertambah) pada ginjal, hati, jaringan lemak dan bahkan pada otak.
Lantas bagaimana agar kita bisa terhindar dari memakan atau menkonsumsi makanan (kue, masakan) yang mengandung boraks? Bila ingin deteksi boraks secara detail baik kualitas maupun kuantitas yang terkandung dalam makanan mau tidak mau kita harus mengujinya di laboratorium kimia. Meskipun demikian, secara praktis kita bisa mengenali atau mengetahui ciri makanan yang mengandung boraks seperti berikut :

  1. Baso . Ciri-ciri Baso yang mengandung formalin/boraks adalah terasa sangat kenyal. Warna baso tidak kecoklatan seperti daging akan tetapi warna akan cenderung keputihan.
  2. Mie basah . Tekstur mie basah yang mengandung formalin atau borak akan sangat kenyal. Ciri-ciri lainnya adalah mengkilat, tidak lengket dan tidak cepat putus.
  3. Lontong/Ketupat . Ciri-ciri lontong atau ketupat yang mengandung boraks juga akan sangat kenyal. Selain itu biasanya memiliki rasa tajam dan ada rasa getir.
  4. Kerupuk . Kerupuk, gendar, atau makanan sejenis lainnya, yang mengandung boraks akan memiliki rasa sangat renyah dan ada rasa getir.



 

Tips Cara Mengetahui Makanan Mengandung Formalin/Boraks

Jagalah kesehatan anak, istri/suami anda. Waspadalah pada makanan yang berpotensi mengandung boraks. Teliti sebelum membeli makanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Menghitung Persentase(%) Untung/Rugi

Cara mendapatkan persen keuntungan/kerugian - Kegunaan utama persentase adalah untuk membandingkan dua hal yang tidak sama persis. Pada artikel terdahulu saya telah menulis dasar-dasar bagaimana cara menghitung persentase. Kini kita akan lebih bahas lebih dalam lagi khususnya untuk menentukan persentase keuntungan dan kerugian dalam proses jual-beli barang. Ilustrasi timbangan untung Rugi     Untung atau Rugi? Sebelum membahas lebih jauh, anda harus tahu dahulu istilah untung dan rugi. Penjualan dikatakan untung bila Harga Barang yang dijual lebih besar dari modal yang kita keluarkan untuk membeli barang tersebut. Sedangkan penjualan dikatakan mengalami kerugian jika harga jual lebih kecil dari harga perolehan/pembelian barang.   Untung adalah Harga Penjualan > Harga Pembelian Untung = Harga Penjualan – Harga Pembelian Persentase Keuntungan = Untung / Harga Pembelian x 100%   Rugi adalah Harga Penjualan < Harga Pembelian Rugi = Harga Pembelian – Harga Penjualan Per

Perkalian Pecahan

Cara Menghitung Perkalian Pecahan (biasa, campuran, desimal, persen) - Kita sering mendengar kata-kata pecahan, pembilang, penyebut, sekian per sekian, dan masih banyak lagi. Berbagai macam sebutan tersebut menunjukkan bahwa nilai yang merupakan hasil pembagian sebuah bilangan dengan bilangan lainnya atau sering disebut dengan pecahan. Hakikatnya pengertian pecahan adalah istilah dalam matematika yang terdiri dari pembilang dan penyebut. Pembilang adalah bilangan yang dibagi, sedangkan penyebut adalah bilangan yang menjadi pembagi. Secara umum, penulisan pecahan akan lebih mudah dibaca menggunakan nilai penyebut dan pembilang yang lebih kecil atau penggunaan penyebut berbasis 5 atau 10 tetapi masih tetap memiliki nilai yang sama. Sebagai contoh, orang 1/2 akan lebih disukai daripada 500/1000, tetapi 50/100 atau 500/1000 akan lebih disukai daripada pecahan seperti 387/774. Padahal semua bilangan tersebut memiliki nilai yang sama, yakni 1/2. Oleh karena itu, biasanya dilakukan penye

Cara Konversi Bilangan Desimal, Biner, Oktal & Heksadesimal

Konversi bilangan biasanya menjadi pengetahuan dasar yang sering atau mungkin wajib diberikan kepada mahasiswa pada mata kuliah pengenalan komputer. Karena pentingnya konsep dasar sistem bilangan dengan basis yang berbeda sehingga juga diajarkan atau diperkenalkan kepada siswa SMK/SMA atau bahkan siswa SMP. Ada empat basis bilangan yang sering digunakan yakni : bilangan berbasis dua atau yang sering disebut dengan bilangan biner (binary), digit yang digunakan adalah 0 dan 1 bilangan berbasis delapan atau sering juga disebut oktal (octal), digit yang digunakan adalah 0, 1, 2, …, 7 bilangan berbasis sepuluh atau desimal yang sering kita digunakan dalam kehidupan sehari-hari, digit yang digunakan adalah 0, 1, 2, …, 8, 9; serta bilangan berbasis enambelas atau heksadesimal (hexadecimal), dengan digit yang digunakan adalah 0, 1, 2, 3, …, 8, 9, A, B, …, E, F. Dimana A sebagai pengganti nilai 10, B=11, C=12, dst. Berikut ini akan dibahas satu persatu bilangan tersebut serta bagaimana ca